
AWESH.id-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang menggelar Festival Ngadulag, Jumat (20/3/2026) malam. Ribuan masyarakat antusias menghadiri festival yang diangkat dari tradisi pada momen Hari Raya Idul Fitri.
Festival Gadulag yang dikuti perwakilan 30 kecamatan itu menjadi angin segar perayaan malam takbiran di Karawang.
Udin Puyuh, salah seorang perwakilan Kecamatan Telukjambe Barat dari Desa Margakaya mengaku bangga bisa ambil bagian dalam festival tersebut. Ia yang berasal dari grup Limas Kencleng, menyebut keikutsertaannya berawal dari penunjukan pihak kecamatan.
“Saya perwakilan dari Kecamatan Telukjambe Barat, Desa Margakaya. Awalnya saya juga tidak tahu apa-apa, tapi karena diminta perwakilan dari kecamatan, ya saya ikuti saja,” ujar Udin di Jalan Ahmad Yani, Jumat (20/3/2026) malam.
Udin mengatakan Limas Kencleng mengusung konsep sederhana, namun tetap mempertahankan keaslian alat musik tradisional. Tidak ada sentuhan modern, sebab seluruh instrumen dibuat dari bahan alami, seperti dulag dari pohon gebang, kohkol, hingga peralatan sederhana seperti panci dan kecrek.
“Saya tidak pakai yang mewah-mewah. Ini asli dulag, alami. Sesuai arahan juga, jangan pakai yang modern seperti organ. Yang penting takbir dan tetap tradisional,” kata Udin.
Meski semangat untuk menjadi yang terbaik tetap ada, namun bagi Udin, yang terpenting bisa berpartisipasi dan memeriahkan malam takbiran.
“Harapannya ya menang, walaupun kita tampil alami,” ucapnya singkat.
Udin berujar festival ini menjadi angin segar bagi masyarakat, terutama dalam menghidupkan kembali tradisi arak bedug yang sempat vakum. Ia menyebutkan, kegiatan serupa sebenarnya pernah ada sejak puluhan tahun lalu, namun perlahan hilang.
“Dulu saya pernah ikut sekitar tahun 90-an. Sempat hampir hilang, sekarang dibangkitkan lagi. Alhamdulillah, ini bagus sekali,” ungkapnya.
Tak hanya itu, menurut Udin, kehadiran festival ini membawa dampak positif. Terutama dalam menjaga ketertiban masyarakat saat malam takbiran.
“Kalau dulu paling keliling saja, kadang malah bisa ke arah yang kurang baik. Sekarang alhamdulillah lebih tertib, ada bimbingan, ada kegiatan yang jelas,” kata Udin.
Kegiatan ini diikuti oleh 30 kecamatan yang tersebar di tiga titik, yakni di kawasan Kantor Pemda Karawang, Lapangan Kecamatan Cikampek, dan Tirtajaya.
Bupati Karawang Aep Syaepuloh mengaku rasa syukur atas terselenggaranya Festival Ngadulag. Festival ini dikemas berbeda dengan membagi lokasi kegiatan agar masyarakat tidak perlu terpusat di satu titik.
“Alhamdulillah, tak terasa 30 hari bulan suci Ramadan telah kita jalankan. Hari ini adalah hari kemenangan kita. Insya Allah besok kita melaksanakan salat Id bersama,” ujar Aep.
Aep menyebutkan, pembagian tiga titik kegiatan bertujuan untuk memudahkan partisipasi masyarakat di setiap wilayah kecamatan. Selain itu juga untuk memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh peserta untuk menampilkan kreativitas terbaiknya.
“Tahun ini ada tiga titik kegiatan, di Pemda, Cikampek, dan Tirtajaya. Kita ingin setiap kecamatan tidak harus datang ke pusat kabupaten Karawang,” katanya.
Bagi Aep, Festival Ngadulag bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari upaya melestarikan budaya lokal, sekaligus memperkuat identitas Karawang sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam, sumber daya manusia, serta nilai religius.
“Dengan dulag atau bedug ini kita kembalikan tradisi. Karawang dikenal sebagai lumbung padi, kota industri, dan juga memiliki lebih dari 500 pesantren di bawah Kementerian Agama,” ujar Aep.
Dalam festival ini, setiap kecamatan mengirimkan perwakilan terbaiknya untuk dinilai oleh dewan juri. Penilaian dilakukan secara objektif guna menentukan peserta terbaik dari masing-masing titik.
“Harapannya, melalui kegiatan ini kita semua kembali fitri, dan semoga tahun depan kita masih dipertemukan dengan Ramadhan dan Idul Fitri,” ucap Aep.