11 Februari 2026

Pencemaran dan Spesies Invansif jadi Ancaman Ikan Endemik Sungai Citarum

Edukata
Ikan lempuk atau nama latinnya Ompok siluroides, salah satu ikan endemik Sungai Citarum. Foto Dokumentasi ForkadasC+.
Ikan lempuk atau nama latinnya Ompok siluroides, salah satu ikan endemik Sungai Citarum. Foto Dokumentasi ForkadasC+.

AWESH.id-Keberadaan ikan endemik di Sungai Citarum semakin terancam oleh pencemaran lingkungan dan hadirnya spesies ikan asing invasif. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan menyusul sulitnya menemukan sejumlah ikan lokal yang membutuhkan kualitas air baik.

Relawan ForkadasC+ Foundation Karawang Willy Firdaus mengatakan,  penurunan kualitas air menjadi salah satu faktor utama menyusutnya populasi ikan lokal di Sungai Citarum. Komunitasnya, kata Willy, telah fokus pada pelestarian Sungai Citarum sejak 2012, dengan perhatian khusus terhadap konservasi ikan endemik sejak 2018.

“Tidak semua ikan endemik mampu beradaptasi dengan perubahan kualitas air yang ekstrem, seperti perubahan suhu, pH, dan kejernihan air,” ujar Willy, Selasa (10/2/2026).

Willy mencontohkan udang galah sebagai salah satu biota air yang sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan, terutama saat proses molting atau pergantian kulit. Udang galah membutuhkan kualitas air di atas rata-rata agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Adapun sejumlah jenis ikan endemik seperti ikan betok dan ikan sepat masih relatif mampu bertahan meski kualitas air Sungai Citarum mengalami penurunan.
“Kalau ditanya seberapa parah kondisinya, itu cukup parah. Banyak spesies ikan endemik yang membutuhkan air berkualitas baik tidak ditemukan dalam identifikasi pada Januari lalu,” kata Willy.

Selain pencemaran, kata Willy, ancaman serius juga berasal dari keberadaan ikan asing invasif, seperti ikan sapu-sapu, nila, dan lele dumbo. Spesies ini dinilai mampu merebut ruang hidup ikan endemik, baik dari sisi ketersediaan makanan, habitat, maupun tempat berkembang biak.
Bahkan, ikan omnivora seperti nila dan lele Dumbo berpotensi memangsa anakan ikan lokal, sehingga mempercepat penurunan populasinya di alam liar.

Adapun khusus ikan sapu-sapu, perilakunya yang sering menggali dasar sungai menyebabkan air menjadi lebih keruh. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kualitas habitat ikan endemik yang membutuhkan perairan jernih dan stabil.

Menurut Willy, untuk menjaga keseimbangan ekosistem Sungai Citarum perlu sejumlah upaya pelestarian perlu terus didorong. Di antaranya menjaga bantaran sungai agar tetap berfungsi sebagai dataran banjir alami yang menjadi lokasi pemijahan ikan endemik.

Selain itu, diperlukan pengendalian populasi ikan invasif serta program restocking atau pengisian kembali ikan endemik yang populasinya menurun.
Yang tak kalah penting, kata Willy, edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci utama, terutama terkait larangan melepas ikan asing ke sungai.
“Masih ada anggapan keliru bahwa ikan seperti nila, lele dumbo, atau patin Siam aman dilepas ke Citarum. Padahal, ikan-ikan tersebut termasuk asing invasif. Bahkan patin Siam sering disangka ikan jambal, padahal jelas berbeda,” kata Willy.

Willy berharap kesadaran masyarakat terhadap kelestarian Sungai Citarum terus meningkat, sehingga generasi mendatang masih dapat menikmati dan mencintai kekayaan hayati sungai terpanjang di Jawa Barat tersebut.

“Menjaga ekosistem sungai bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat yang hidup di sekitarnya,” ujar Willy.

Ke Atas