5 Mei 2026

Unsika Gandeng 27 Mitra untuk Link and Match Kebutuhan Lapangan Kerja

Kabar
Focus Group Discussion (FGD) di Aula FKIP Unsika, Selasa (5/5/2026).
Focus Group Discussion (FGD) di Aula FKIP Unsika, Selasa (5/5/2026).

AWESH.id– Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama 27 mitra yang terdiri dari dunia usaha, dunia industri, dan pemerintah di Aula FKIP Unsika, Selasa (5/5/2026).

FGD dihelat sebagai upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama Unsika, Dr. H. Amirudin, Drs., M.Pd.I., mengatakan, seluruh mitra yang diundang hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, FGD digelar untuk menyerap berbagai masukan terkait profil lulusan yang dibutuhkan perusahaan dan instansi pemerintahan.

“Tujuannya tentu kami ingin mengetahui masukan-masukan dari dunia industri, dunia usaha, dan pemerintah. Profil lulusan seperti apa yang dibutuhkan sehingga nantinya mahasiswa Unsika ketika lulus bisa mudah bekerja dan diterima di dunia kerja,” ujar Amirudin.

Ia mengatakan, selama ini lulusan Unsika sudah banyak yang bekerja di perusahaan maupun instansi pemerintah. Namun demikian, pihak kampus menilai masih diperlukan optimalisasi agar lulusan semakin sesuai dengan kebutuhan industri.

“Jangan sampai alumni setelah lulus justru kesulitan mencari pekerjaan karena tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Maka dari itu, melalui FGD ini kami ingin mendapatkan gambaran langsung dari para mitra,” katanya.

Menurut Amirudin, hasil FGD nantinya akan menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan kurikulum maupun penguatan kompetensi mahasiswa, termasuk pelatihan tambahan yang dibutuhkan dunia kerja.

Ia menambahkan, Unsika juga terus membekali mahasiswa dengan kemampuan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Bahkan, mahasiswa diberikan kesempatan mengikuti pelatihan di laboratorium bahasa sebelum lulus.

“Mahasiswa yang mengikuti pelatihan bahasa nantinya mendapatkan sertifikat TOEFL atau TUPel. Ini menjadi salah satu penunjang agar mereka lebih mudah mendapatkan pekerjaan,” kata Amirudin.

Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama Unsika, Yayat Hendayana, S.S., M.Si., mengatakan,  FGD ini sebagai bagian dari upaya memperkuat konsep link and match antara perguruan tinggi dengan kebutuhan lapangan kerja.

Menurutnya, proses pembelajaran di perguruan tinggi saat ini tidak lagi hanya berfokus pada teori di dalam kelas, melainkan juga memperbanyak praktik melalui program pembelajaran di luar kampus.

“Kalau dulu pembelajaran lebih banyak teori di kelas. Sekarang mahasiswa didorong lebih banyak praktik dan aktif berdiskusi agar memiliki kemampuan soft skill, seperti komunikasi publik dan kemampuan menyampaikan gagasan,” kata Yayat.

Yayat menilai, kemampuan soft skill menjadi salah satu faktor penting yang dibutuhkan perusahaan selain ijazah dan kemampuan akademik.

“Perusahaan sekarang tidak hanya melihat ijazah saja, tetapi juga kemampuan lain seperti komunikasi, kerja sama, hingga keterampilan tambahan yang dimiliki lulusan,” ujarnya.

Yayat juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dunia industri, masyarakat, hingga media dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

“Sekarang konsepnya bukan lagi triple helix, tetapi sudah menjadi pentahelix. Jadi semua pihak memiliki peran dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi,” katanya.

Sejumlah perusahaan dan instansi, kata Yayat, mulai aktif melakukan verifikasi terhadap lulusan Unsika sebelum proses perekrutan dilakukan. Beberapa di antaranya berasal dari sektor perbankan, rumah sakit, hingga perhotelan.

“Mereka menghubungi kami untuk memastikan apakah calon pegawai tersebut benar lulusan Unsika. Ini menunjukkan kepercayaan terhadap lulusan Unsika semakin meningkat,” ujar Yayat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas